
Kabar Berita Indonesia , Jakarta – OpenAI segera menerapkan kebijakan baru yang mewajibkan verifikasi usia pengguna ChatGPT. Dalam beberapa situasi, perusahaan bahkan menyebutkan kemungkinan meminta pengguna dewasa untuk mengunggah kartu identitas seperti KTP sebagai syarat akses.
CEO OpenAI, Sam Altman, menjelaskan bahwa langkah ini bertujuan membedakan pengalaman pengguna remaja dan dewasa, serta meningkatkan keamanan penggunaan chatbot AI.
OpenAI Siapkan Sistem Deteksi Usia Otomatis
OpenAI mengembangkan sistem yang mampu mengidentifikasi usia pengguna secara otomatis. Sistem ini akan menyesuaikan fitur dan batasan ChatGPT berdasarkan usia, guna mencegah penyalahgunaan dan menjaga keselamatan pengguna.
Baca juga : Redmi 15C 5G Resmi Meluncur, Usung Chip Dimensity 6300
Aturan Khusus untuk Pengguna Remaja
Selain verifikasi usia, OpenAI menyiapkan aturan khusus bagi pengguna berusia 13 hingga 17 tahun. Meskipun detail aturan ini belum terjabarkan sepenuhnya, Altman memberikan beberapa contoh batasan.
Baca juga : Kematian Kacab Bank BUMN, 15 Tersangka Terlibat
“ChatGPT tidak akan menanggapi ajakan obrolan genit dari pengguna remaja, juga tidak akan membahas topik bunuh diri atau menyakiti diri sendiri, bahkan dalam konteks fiksi atau penulisan kreatif,” tegas Altman.
Jika sistem mendeteksi pengguna di bawah usia 18 tahun menunjukkan tanda-tanda ingin bunuh diri, OpenAI berkomitmen untuk menghubungi orang tua atau pihak berwenang bila terdapat potensi bahaya serius.
Data Aman, Bahkan dari Karyawan OpenAI
Altman juga menekankan bahwa OpenAI sedang menyiapkan sistem keamanan lanjutan untuk memastikan kerahasiaan data pengguna. Data pribadi yang terkumpul dari proses verifikasi, termasuk kartu identitas, karyawan OpenAI tidak dapat mengaksesnya.
“Kami tahu ini langkah besar, tapi keamanan pengguna harus menjadi prioritas,” kata Altman.
Baca juga : Kasus BPR Jepara Artha : KPK Ungkap Kredit Fiktif
Kebijakan Ini Muncul Setelah Kasus Tragis
Langkah OpenAI ini muncul setelah serangkaian kasus tragis dan gugatan hukum yang menyeret chatbot AI, termasuk ChatGPT. Pada Agustus 2025, orang tua dari Adam Raine menggugat OpenAI, seorang remaja yang mengakhiri hidupnya pada April 2025.
Orang tua Adam menuduh ChatGPT memberikan dukungan emosional negatif, membantu Adam menyusun surat bunuh diri, hingga menyarankan metode mengakhiri hidup. Dalam gugatan tersebut menganggap ChatGPT mengabaikan sinyal bahaya dan malah memperburuk kondisi mental sang remaja.
Baca juga : TikTok Aman di AS, Trump Bocorkan Rencana Akuisisi
Kasus Lain Juga Timbulkan Kekhawatiran Global
Selain kasus Adam, media seperti Wall Street Journal dan Washington Post turut melaporkan kejadian serupa. Seorang pria berusia 56 tahun bunuh diri setelah ChatGPT memperkuat paranoia dan ketakutan ekstremnya.
Sementara itu, platform chatbot lain seperti Character AI juga mendapat gugatan karena terduga berperan dalam bunuh diri seorang anak laki-laki usia 13 tahun.
Baca juga : Uang Menkeu Rp200 T, OJK Waspadai Kredit Macet
Penutup: Prioritaskan Keamanan Pengguna
OpenAI menyatakan akan terus memperkuat fitur keamanan dan kontrol orang tua pada ChatGPT. Dengan langkah-langkah ini, perusahaan berharap dapat mengurangi risiko penyalahgunaan teknologi AI, sekaligus tetap menjaga pengalaman pengguna yang positif dan aman, baik untuk remaja maupun orang dewasa.
