
Setelah Tiga Kali Penundaan, Masa Depan TikTok AS Mulai Temui Titik Terang
Kabar Berita Indonesia , Kesepakatan AS-China akhirnya tercapai dan sementara terkait kelanjutan operasional TikTok dalam wilayah AS. Aplikasi video pendek populer punya ByteDance itu sempat berada dalam ambang pelarangan total sejak awal 2025, akibat kekhawatiran soal keamanan nasional dan kendali asing terhadap data warga Amerika.
Setelah melalui proses negosiasi panjang dan tiga kali penundaan tenggat, Presiden AS Donald Trump dan pemerintah China akhirnya sepakat pada kerangka awal penyelesaian.
Baca juga : Korupsi Dana BOS SMA Negeri 19 Medan: 3 Tersangka Dalam Penahanan
PengalihanKepemilikan , TikTok Tetap Bisa Beroperasi
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengonfirmasi bahwa kesepakatan tersebut membuka jalan bagi pengalihan kepemilikan TikTok dari ByteDance ke perusahaan asal Amerika Serikat. Bessent menyampaikan hal itu dalam konferensi pers setelah pertemuan bilateral .
“Kami tidak akan mengungkapkan rincian komersialnya karena itu urusan perusahaan terkait. Tapi secara prinsip, semua syarat utama sudah dalam kesepakatan,” jelas Bessent.
Salah satu poin penting dalam kesepakatan ini adalah pengelolaan data dan keamanan konten pengguna AS yang penanganan nantinya akan langsung oleh entitas di Amerika. Selain itu, algoritma TikTok—yang selama ini anggapannya sebagai kekuatan utama platform—akan lewat lisensi kekayaan intelektual yang sudah dalam kesepakatan bersama.
Baca juga : Bayi 20 Hari kubur Hidup-Hidup, Warga Kaget Temuan , Viral
Kesepakatan AS-China : China Pertahankan Unsur Budaya, AS Fokus ke Keamanan
Pejabat China, Wang Jingtao, menyebut pihaknya berhasil memastikan bahwa unsur budaya Tiongkok dalam TikTok tetap pelestarian. Padasisi lain, pemerintah AS menegaskan bahwa fokus utama mereka adalah menjaga keamanan data dan menghindari pengaruh asing terhadap algoritma konten.
“China ingin mempertahankan ciri khas budayanya dalam aplikasi ini. Kami tidak mempermasalahkan itu. Yang kami utamakan adalah keamanan nasional,” tegas Bessent.
Kesepakatan AS-China : Trump Beri Sinyal Positif, Kesepakatan Final Tunggu Pembicaraan Langsung
Presiden Donald Trump mengungkapkan sikap positif terhadap perkembangan ini. Melalui platform Truth Social, ia menuliskan bahwa kesepakatan ini bisa menyelamatkan aplikasi yang sangat banyak pengemar oleh generasi muda AS.
Penjadwalan Trump dan Presiden China Xi Jinping berbicara melalui sambungan telepon pada Jumat mendatang untuk menyempurnakan kesepakatan tersebut. Setelah itu, pemerintah AS akan menentukan perusahaan mana yang akan mengambil alih TikTok di AS. PerkiraanLangkah ini membutuhkan persetujuan Kongres.
Baca juga : Bobby Copot Pejabat Sumut karena Etika dan Disiplin
TikTok Pernah Kena Blokir dan Hilang dari App Store
Kisruh TikTok dalam negara AS bermula dari kekhawatiran bahwa pemerintah Tiongkok dapat mengakses data pengguna AS melalui ByteDance. Selain itu, kemampuan algoritma TikTok dalam menyaring dan menyebarkan konten memicu kekhawatiran akan potensi penyalahgunaan untuk kepentingan politik atau propaganda.
Pada masa pemerintahan Presiden Joe Biden, Kongres mengesahkan Undang-Undang “Protecting Americans from Foreign Adversary Controlled Applications Act” yang mewajibkan ByteDance melepas kendali atas TikTok. Undang-undang ini menjadi dasar hukum pelarangan TikTok di AS.
Pada 20 Januari 2025, tepat sehari setelah Trump kembali menjabat, pemerintah AS sempat benar-benar memblokir TikTok dan menghapusnya dari Apple App Store dan Google Play Store. Namun, Trump segera memberi perpanjangan tenggat selama 75 hari, dengan alasan masih ada ruang negosiasi.
Baca juga : OpenAI Ubah Aturan ChatGPT, Pengguna Dewasa Wajib Verifikasi KTP
TikTok Bisa Selamat, Tapi Belum Final
Walaupun kesepakatan ini menandai langkah besar untuk menyelamatkan TikTok dari pelarangan permanen, status finalnya masih menunggu hasil pembicaraan langsung antara kedua kepala negara dan persetujuan formal dari Kongres AS.
Jika semua berjalan sesuai rencana, TikTok akan tetap beroperasi dengan kepemilikan dan pengelolaan baru pada bawah perusahaan Amerika.
