
Kabar Berita Indonesia , Jakarta, 24 September 2025 — Teknologi kecerdasan buatan (AI) semakin merasuk dalam kehidupan profesional manusia. Namun, sebuah studi internasional mengungkap sisi gelap dari kolaborasi ini: bekerja dengan AI justru mendorong orang untuk lebih mudah berbuat curang.
Studi: AI Melemahkan Batas Etika Manusia
Peneliti dari Max Planck Institute for Human Development, University of Duisburg-Essen, dan Toulouse School of Economics melibatkan lebih dari 8.000 partisipan dalam 13 eksperimen. Hasilnya menunjukkan pola yang konsisten: semakin besar peran AI dalam suatu tugas, semakin longgar batas etika yang manusia harus menjaganya.
Baca juga : Keracunan massal MBG , Pemkab Tutup Dapur MBG Cipongkor
Zoe Rahwan, salah satu penulis studi, menyebutkan bahwa AI menciptakan jarak moral antara tindakan dan pelaku.
“Saat orang menggunakan AI, mereka merasa tidak langsung bertanggung jawab atas tindakan yang mereka delegasikan. Mereka lebih mudah menyuruh AI melakukan sesuatu yang tidak berani mereka lakukan sendiri,” jelas Zoe.
AI Memperbesar “Jarak Moral”
Dalam psikologi, istilah moral distance menggambarkan kondisi ketika seseorang merasa lebih lepas dari tanggung jawab etis karena adanya perantara. AI kini berperan sebagai perantara itu—membuat seseorang lebih nyaman melakukan pelanggaran karena merasa tidak melakukannya secara langsung.
Salah satu eksperimen, die-roll task, menunjukkan fakta menarik. Dalam simulasi, peserta melempar dadu dan melaporkan hasilnya—semakin tinggi angkanya, semakin besar hadiahnya.
- Saat peserta melapor sendiri, 95% tetap jujur
- Ketika pelaporan melalui AI, angka kejujuran menurun:
- 75% saat ada aturan eksplisit
- 50% saat AI dalam model pembelajaran
- Hanya 16% saat AI diberi instruksi samar seperti “maksimalkan keuntungan”
Nils Köbis, penulis utama, menegaskan bahwa AI menjadi alat yang memungkinkan pengguna untuk menghindari pertanggungjawaban moral.
“Orang lebih berani melanggar etika jika bisa menyerahkannya ke mesin—apalagi jika tak perlu menyuruh secara eksplisit,” ujar Nils.
Lebih Patuh, Tapi Kurang Etis
Penelitian juga membandingkan AI dan manusia sebagai pelaksana instruksi. Saat memberi perintah untuk berlaku jujur, baik manusia maupun AI menuruti lebih dari 96%. Namun ketika meminta untuk curang, perbedaan mencolok muncul:
- Dalam tugas dadu:
- 42% manusia mengikuti perintah curang
- 93% AI melaksanakannya tanpa ragu
- Dalam simulasi pajak:
- 26% manusia mengikuti
- 61% AI menuruti
Temuan ini menunjukkan bahwa AI tidak memiliki rem moral, dan hanya menjalankan perintah tanpa mempertimbangkan aspek etika.
Baca juga : Hotman Paris Usul 200T untuk Kredit Padat Karya Rakyat
Peringatan dan Aturan Tak Cukup
Peneliti juga menguji efektivitas berbagai intervensi, seperti sistem peringatan, larangan eksplisit, hingga aturan internal. Sayangnya, sebagian besar gagal mencegah kecurangan.
Yang paling efektif justru prompt sederhana dari pengguna sendiri: “Tolong jangan curang dalam tugas ini.” Namun, peneliti menilai cara ini tidak bisa diandalkan sebagai sistem perlindungan etika jangka panjang.
Iyad Rahwan, Direktur Center for Humans and Machines, menekankan pentingnya membangun sistem yang benar-benar menjaga nilai etika dalam penggunaan AI.
“Kita butuh lebih dari sekadar filter. Kita harus menciptakan aturan teknis dan regulasi yang jelas, serta desain antarmuka yang mendorong perilaku etis,” ujar Iyad.
Baca juga : Mobil Hybrid Jadi Penopang Saat Penjualan Astra Melambat
Solusi: Desain AI yang Etis dan Transparan
Para peneliti merekomendasikan tiga langkah utama untuk meminimalkan potensi penyalahgunaan AI:
- Menjaga transparansi keputusan manusia, agar setiap tindakan bisa kita telusuri.
- Menghindari tujuan samar, seperti “maksimalkan hasil” tanpa kejelasan etika.
- Menetapkan default AI yang menolak perintah merugikan, bukan hanya mengandalkan niat baik pengguna.
Delegasi ke AI Bukan Alasan Melepas Tanggung Jawab
Meski eksperimen masih dalam simulasi, para ilmuwan menegaskan bahwa dampaknya nyata. Kini, AI sudah bisa pergunakan dalam pengelolaan email, harga, pajak, hingga konten digital. Dalam tengah kemudahan ini, tanggung jawab moral tetap harus dipegang oleh manusia.
“Delegasi bukan berarti bebas tanggung jawab. Kita hanya memindahkan tugas, bukan etikanya,” tulis peneliti dalam laporan yang jurnal Nature.
