
Kabar Berita Indonesia , KEDIRI – Nama Gudang Garam tentu sudah tidak asing lagi pada telinga masyarakat Indonesia. Perusahaan rokok yang berbasis di Kediri ini pernah mendominasi industri tembakau Tanah Air bersama dua pesaing utamanya, Djarum dan Sampoerna. Selama puluhan tahun, Gudang Garam menikmati masa keemasan dengan keuntungan yang terus mengalir dan menjadi favorit investor pasar modal.
Awal Berdiri dari Usaha Rumahan
Gudang Garam bermula dari usaha rumahan yang didirikan oleh Surya Wonowidjojo (nama lahir Tjoa Ing-Hwie) pada tahun 1956. Ketika itu, ia memproduksi rokok kretek kelobot dengan merek Inghwie yang langsung laris pada pasaran. Dua tahun berselang, pada 1958, usaha tersebut resmi menjadi perusahaan bernama Perusahaan Rokok Tjap .
Baca juga : Gaji DPR Rp65 Juta Sebulan , Begini Tanggapan Warga
“Gudang Garam” bukan hanya sekedar nama asal asalan , tapi berasal dari mimpi sang pendiri. Seiring waktu, perusahaan terus berkembang dan mulai memproduksi tiga jenis utama rokok kretek, yakni sigaret kretek klobot (SKL), sigaret kretek linting tangan (SKT), dan sigaret kretek linting mesin (SKM).
Peneruskan ke Generasi Kedua
Setelah wafatnya Surya Wonowidjojo pada 28 Agustus 1985, kendali perusahaan beralih ke tangan generasi kedua, putranya menjadi pemimpin bernama Susilo Wonowidjojo. Di bawah kepemimpinan Susilo, Perusahaan tak hanya mempertahankan bisnis rokok, tetapi juga berekspansi ke berbagai sektor.
Salah satu langkah diversifikasi bisnis yang menonjol adalah pendirian PT Surya Kerta Agung pada sektor jalan tol. Selain itu, Perusahaan raksasa melalui anak usahanya, PT Surya Dhoho Investama (SDHI), juga membangun Bandara Dhoho Kediri yang hingga kini masih minim penerbangan.
Kesuksesan bisnis membawa Susilo Wonowidjojo masuk dalam daftar orang terkaya Indonesia versi Forbes. 2004 menjadi tahun perusahaan raksasa ini dan mencatat perkiraan harta kekayaannya bisa menapai sekitaran USD 2,9 miliar atau setara Rp 46 triliun.
Puncak Keemasan Gudang Garam
Baca juga : Harga Emas Mendulang Rekor: Apa yang Mendorongnya?
Masa keemasan perusahaan tersebut pada Periode 1980-an hingga awal 2020-an . Perusahaan tembakau raksasa ini meemiliki konsistensi dalam hal mencatat keuntungan bersih sebesar triliunan rupiah setiap tahunnya. Tak hanya itu, Gudang Garam juga menjadi incaran investor karena rutin membagikan dividen besar meskipun harga sahamnya tergolong mahal.
Pada tahun 2019, harga saham Gudang Garam sempat menyentuh hampir Rp 90.000 per lembar. Pada tahun yang sama, perusahaan mencatatkan laba bersih fantastis senilai Rp 10,8 triliun.
Berikut ini catatan laba bersih Gudang Garam selama satu dekade terakhir:
| Tahun | Laba Bersih |
|---|---|
| 2025 (Semester I) | Rp 117 miliar |
| 2024 | Rp 980,8 miliar |
| 2023 | Rp 5,32 triliun |
| 2022 | Rp 2,78 triliun |
| 2021 | Rp 5,60 triliun |
| 2020 | Rp 7,64 triliun |
| 2019 | Rp 10,8 triliun |
| 2018 | Rp 7,79 triliun |
| 2017 | Rp 7,75 triliun |
| 2016 | Rp 6,67 triliun |
Laba Menurun, Tantangan Semakin Berat
Perusahaan rokok raksasa ini mengalami tekanan berat pada waktu belakangan ini. Kinerja keuangan perusahaan mulai menurun signifikan akibat berbagai faktor, seperti kenaikan cukai rokok dan maraknya peredaran rokok ilegal.
Meskipun belum sampai mencatatkan kerugian, laba Gudang Garam terus merosot. Pada 2023, laba bersih masih berada pada angka Rp 5,32 triliun. Namun pada tahun 2024, angka keuntungan tersebut mengalami penurunan drastis menjadi Rp 980,8 miliar, atau anjlok 81,57 persen. Tren penurunan ini berlanjut pada semester I 2025, dengan laba hanya mencapai Rp 117 miliar.
Masa Depan Gudang Garam: Bertahan atau Bangkit?
Kini, Gudang Garam menghadapi masalah besar: Mengharuskan bertahan pada ketatnya persaingan industri rokok atau bertransformasi lebih jauh lewat diversifikasi usaha. Meskipun reputasinya sebagai raksasa rokok masih melekat, perusahaan ini harus beradaptasi dengan cepat terhadap tantangan zaman yang terus berubah.
Apakah Gudang Garam akan kembali berjaya seperti dahulu? Waktu yang akan menjawab.
