
Kabar Berita Indonesia – Jakarta – Lulusan ilmu komputer, tak lagi jadi rebutan pasar kerja. Ketidakpastian ekonomi, konflik geopolitik, dan munculnya teknologi kecerdasan buatan (AI) mempercepat gelombang PHK yang terus menghantui dunia. Profesi-profesi yang dulu populer kini kehilangan relevansi.
Lulusan universitas ternama dengan jurusan populer kini juga tidak otomatis mudah mendapat pekerjaan. Jurusan Ilmu Komputer, yang beberapa tahun lalu sempat naik daun, kini menghadapi tantangan besar pada pasar kerja, terutama untuk mereka yang menjadi lulusan Ilmu Komputer.
Banyak pihak sempat menjuluki Jurusan Ilmu Komputer sebagai pencetak tenaga kerja bergaji tinggi. Namun, masifnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) justru membuat jurusan ini kehilangan statusnya sebagai ‘jurusan emas’.
Baca juga : Heboh Penipuan Video Call Deepfake Wajah Raffi Ahmad
AS Menempatkan Lulusan Ilmu Komputer ke Dalam 10 Besar Jurusan dengan Pengangguran Tertinggi.
Jumlah pengangguran lulusan Ilmu Komputer terus meningkat. Data Federal Reserve Bank of New York menempatkan jurusan ini di Amerika Serikat pada peringkat ketujuh dengan tingkat pengangguran tertinggi, yakni 6,1 persen.
Data tersebut mencerminkan dampak meluasnya PHK di industri teknologi. Raksasa seperti Amazon dan Google ikut memangkas ribuan karyawan, sekaligus mempersempit peluang kerja bagi lulusan baru ilmu komputer.
“Setiap anak yang memiliki laptop merasa dirinya bisa menjadi Zuckerberg berikutnya. Namun, kebanyakan tidak mampu mencapai level kompetensi paling dasar sekalipun,” ujar Michael Ryan, pakar keuangan, kepada Newsweek. Ia menggambarkan betapa sulitnya jalan bagi mereka yang berharap menjadi lulusan ilmu komputer yang sukses.
“Teknik Komputer, yang sering tumpang tindih dengan Ilmu Komputer di banyak universitas, bahkan menunjukkan tingkat pengangguran lebih tinggi, yakni 7,5 persen.”
“Situasi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap prospek pekerjaan di bidang teknologi. Sebaliknya, jurusan seperti Ilmu Gizi, Jasa Konstruksi, dan Teknik Sipil justru mencatat tingkat pengangguran terendah. Angka tersebut hanya berkisar antara 1 hingga 0,4 persen.”
Baca juga : Lenovo Yoga Pro 7i Aura Edition, Laptop AI untuk Kreator
Selama ini banyak orang kerap memanjakan Jurusan Ilmu Komputer dengan mimpi yang tidak sejalan dengan realita., menurut konsultan SDM Bryan Driscoll. Ilmu Komputer kini menghadapi realita pahit di lapangan, ketika lulusan yang menumpuk jauh melebihi kesempatan kerja yang tersedia.
Oxford Economics, CBS News mengutip laporan Oxford Economics, mencatat lulusan baru menyumbang 12 persen dari kenaikan 85 persen tingkat pengangguran di AS sejak pertengahan 2023, meski mereka hanya 5 persen dari total angkatan kerja.
Laporan itu menegaskan adanya ketidaksesuaian antara meningkatnya jumlah pemegang gelar dan menurunnya permintaan tenaga kerja di sektor tertentu. Kesenjangan ini paling jelas terlihat di sektor teknologi, di mana lulusan Ilmu Komputer menumpuk lebih banyak dibandingkan disiplin ilmu lainnya.
Pesan Menohok Bos Nvidia
Sejalan dengan meningkatnya kekhawatiran terhadap nasib lulusan Ilmu Komputer, CEO NVIDIA Jensen Huang secara blak-blakan menyebut manusia tidak perlu lagi belajar ilmu komputer. Menurutnya, di masa depan komputer akan semakin canggih. Manusia tidak perlu membuat pemrograman yang rumit.
Huang menilai perkembangan kecerdasan buatan (AI) akan mendemokratisasi industri teknologi. Semua orang, kata dia, akan lebih mudah melek teknologi berkat AI. ‘Kami akan membuat komputer menjadi lebih pintar, sehingga tidak ada lagi yang perlu belajar ilmu komputer untuk membuat pemrograman komputer,’ ujarnya dalam wawancara dengan Jim Cramer, beberapa waktu lalu.
Lebih lanjut, Huang menjelaskan bahwa inti dari AI adalah membuat komputer memahami bahasa manusia. Selama ini, manusia justru harus mempelajari bahasa komputer untuk menciptakan inovasi. Kondisi itulah yang membuat profesi computer engineer menjadi incaran dalam beberapa dekade terakhir, termasuk bagi lulusan Ilmu Komputer.
Meski begitu, Huang menegaskan bahwa robot tidak akan sepenuhnya menggantikan peran manusia dalam pekerjaan.
Huang menekankan bahwa manusia tetap harus melatih robot berbasis AI agar produktif. Robot-robot tersebut mempelajari data, dan ke depannya mereka akan langsung mengumpulkan serta menganalisis data dari aktivitas manusia sehari-hari.
Karena itu, peran manusia tetap krusial dalam proses pelatihan robot. Huang pun optimistis manusia tidak akan menjadi pengangguran. ‘Justru perkembangan ini akan menciptakan lapangan kerja baru dan membuat perusahaan lebih produktif,’ ujarnya.
Huang menegaskan, ketika perusahaan menjadi lebih produktif, pendapatan mereka otomatis meningkat. Situasi itu, menurutnya, akan mendorong perusahaan merekrut lebih banyak karyawan dari kalangan lulusan ilmu komputer.