
Kabar Berita Indonesia , Jakarta – Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menuai kritik tajam dari publik dan akademisi tak lama setelah resmi menjabat, menggantikan Sri Mulyani. Komentar kontroversial yang ia lontarkan terkait tuntutan 17+8 membuat gelombang protes bermunculan, memaksa Purbaya untuk meminta maaf secara terbuka.
Pernyataan Menkeu Purbaya Picu Kontroversi
Setelah Pelantikan oleh Presiden Prabowo Subianto, Purbaya menyebut tuntutan 17+8 hanya mewakili sebagian kecil suara rakyat kecil. Pernyataan itu segera memicu kecaman publik, terutama karena adanya lontaran pada tengah kondisi sosial yang sedang memanas akibat aksi demonstrasi pada berbagai daerah.
Baca juga : Erika Carlina Tegas Tak Minta Nafkah dari DJ Panda
Dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI pada Rabu (10/9/2025), Purbaya secara terbuka mengakui bahwa demonstrasi besar-besaran pada sejumlah wilayah merupakan dampak dari kesalahan dalam kebijakan fiskal dan moneter sebelumnya. Sikap blak-blakan tersebut mendapat beragam respons, sebagian memuji keterbukaannya, namun sebagian lainnya menilai gaya komunikasinya masih bermasalah.
Pakar Komunikasi: Bahasa Menkeu Purbaya Masih Kasar dan Berisiko
Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Sumatera Utara, Prof Iskandar Zulkarnain, menyoroti kelemahan utama Purbaya dalam hal komunikasi publik. Ia menilai Purbaya belum mampu menyampaikan pesan dengan bahasa yang tepat, apalagi saat berhadapan dengan kemarahan publik.
Baca juga : Lampu Merah Mati 3 Hari, Polisi Selidiki Pencurian Kabel
“Pemakaian bahasa bisa menyulut emosi, apalagi dalam situasi panas seperti sekarang. Seorang pejabat publik harus sadar betul akan dampak dari ucapannya,” ujar Iskandar pada Jumat (12/9/2025).
Menurutnya, komunikasi publik tidak hanya bergantung pada kata-kata, tetapi juga bahasa tubuh dan ekspresi wajah. “Purbaya perlu menyadari bahwa publik memperhatikan setiap gestur dan nada bicara. Komunikasi nonverbal harus selaras dengan verbal,” tegasnya.
Tetap Ada Sisi Positif
Meski melontarkan kritik tajam, Iskandar mengakui bahwa Purbaya memiliki sisi positif dalam penyampaian data dan pengalaman. Ia menilai Purbaya mulai menunjukkan kemampuan komunikasi yang lebih baik saat rapat dengan anggota DPR RI.
“Dia membuka data secara transparan dan membagikan pengalamannya saat Indonesia menghadapi krisis. Itu langkah yang tepat. Harusnya gaya seperti itu yang dia pakai saat bicara ke publik,” ucap Iskandar.
Baca juga : 1 Menit Olahraga Cegah Kematian Dini
Harapan untuk Komunikasi yang Lebih Baik
Iskandar menekankan bahwa Purbaya perlu segera memperbaiki cara berkomunikasinya agar tidak terus memicu reaksi negatif dari masyarakat. Menurutnya, setiap pejabat publik memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga stabilitas emosi publik melalui kata-kata yang bijak dan sikap yang tenang.
“Komunikasi yang efektif adalah kunci pada tengah situasi yang sensitif. Menteri Keuangan bukan hanya pengelola angka, tapi juga harus piawai berbicara ke rakyat,” tutupnya.
