
Kabar Berita Indonesia , Membahas mengenai Tantangan Psikologis Perantau , Hidup sebagai perantau di kota-kota besar atau luar negeri memang menawarkan banyak kesempatan, tetapi dalam balik itu, banyak orang harus menghadapi tantangan psikologis yang tidak ringan. Menurut Dra. Tika Bisono, MPsiT., Psikolog—seorang Psikolog Klinis, Praktisi, dan Edukator kesehatan mental—tekanan emosional dan proses adaptasi sering kali menjadi hambatan utama bagi para perantau.
Dalam Webinar Fenomena Kesepian pada Perantau: Bagaimana Mengatasinya pada hariSabtu (4/10/2025), Tika membahas beberapa tantangan psikologis yang umum dialami oleh para perantau. Berikut lima tantangan tersebut.
Baca juga : Jasa Teman Jalan : Mengapa Banyak Orang Rela Bayar Teman?
1. Menghadapi Stres Saat Beradaptasi dengan Lingkungan Baru
Banyak perantau mengalami stres ketika mulai menyesuaikan diri dengan budaya, bahasa, dan gaya hidup yang berbeda.
Tika menjelaskan bahwa saat seseorang pindah ke tempat baru, terutama ke negara lain, ia harus berhadapan dengan norma sosial yang belum familiar dan sistem kerja yang berbeda dari kampung halaman. Situasi ini bisa membuat seseorang merasa bingung, kehilangan arah, bahkan mengalami kelelahan mental karena terus-menerus menyesuaikan diri.
Baca juga : Curhat ke Orang Asing Kadang Lebih Lega, Ini Alasannya
2. Merasakan Kesepian dan Terisolasi
Setelah melewati fase adaptasi awal, banyak perantau mulai merasa sepi dan terisolasi, terutama jika mereka tinggal sendirian dalam lingkungan yang masih asing.
Tika menyebutkan bahwa tidak mudah bagi perantau untuk segera membangun hubungan sosial atau mencari teman baru. Ketika komunikasi dengan keluarga dan teman kampung halaman pun terbatas, rasa kesepian itu bisa semakin dalam. Jika menggangap remeh, kesepian tersebut dapat berubah menjadi perasaan hampa hingga depresi ringan.
3. Mengalami Rasa Kehilangan dan Rindu Kampung Halaman
Selama merantau, banyak orang merasakan kehilangan terhadap kebiasaan, suasana, dan dukungan emosional yang dulu mereka miliki di rumah.
Tika mengungkapkan bahwa rasa kehilangan ini bisa memicu konflik identitas, terutama saat seseorang merasa terhimpit antara budaya asal dan budaya baru. Perantau pun bisa mulai meragukan keputusannya untuk tinggal pada tempat baru. Dilema antara beradaptasi dengan lingkungan baru atau tetap mempertahankan jati diri pun sering muncul dalam fase ini.
Baca juga : Zodiak yang Punya Chemistry Kuat dalam Hubungan Cinta
4. Menemui Hambatan dalam Komunikasi
Kesulitan dalam berbahasa dan memahami budaya setempat sering membuat perantau merasa terasing, bahkan jika mereka sudah lama tinggal tempat tersebut.
Menurut Tika, bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga kunci untuk membangun hubungan sosial. Ketika seseorang belum menguasai bahasa lokal atau tidak terbiasa dengan logat tertentu, mereka cenderung merasa gugup saat berinteraksi. Akibatnya, kepercayaan diri pun menurun, terutama saat harus menyampaikan pendapat atau bersosialisasi dalam konteks profesional.
5. Merasakan Tekanan untuk Sukses
Banyak perantau membawa harapan besar saat meninggalkan kampung halaman, baik untuk diri sendiri maupun keluarga.
Tika menjelaskan bahwa harapan ini sering berubah menjadi tekanan psikologis. Ketika perantau merasa belum berhasil atau gagal beradaptasi, rasa bersalah pun muncul. Mereka takut mengecewakan orang yang menaruh harapan besar. Tanpa dukungan sosial yang cukup dan kemampuan mengelola emosi, tekanan ini bisa berdampak serius pada kesehatan mental.
Baca juga : Bjorka Tertangkap, Polisi Sita Bukti Aktivitas Siber Ilegal
Penutup
Menjalani hidup sebagai perantau memang memerlukan kekuatan mental yang besar. Tantangan-tantangan psikologis seperti stres, kesepian, hingga tekanan untuk sukses bukanlah hal sepele. Oleh karena itu, penting bagi perantau untuk mengenali kondisi emosionalnya dan mencari dukungan, baik dari lingkungan sekitar maupun profesional, agar tetap sehat secara mental selama menjalani kehidupan pada tempat baru.
